Kukuhkan Bumdes JAYA MANDIRI, Pemdes Klampok Modali 47 Juta, Molen dan Mobil Siaga

Kabar Desa

Klampok- Dengan penuh semangat Nasikhatun Fitriyani, S.Pd mengukuhkan kepengurusan Bumdes Jaya Mandiri di aula balaidesa Klampok, pada Sabtu (28/12/19).

Pengukuhan pengurus Bumdes Jaya Mandiri itu dilaksanakan penuh kesederhanaan. Hanya berdiri didepan meja yang memutar, para pengurus Bumdes, menirukan ikrarbjanji pengurus yang dibacakan oleh kades Klampok, Mbak Vivi. Hadir pada acara tersebut, Pengawas Bumdes, Pemdes Klampok beserta pengurus baru periode 2019-2025.

Pasca dikukuhkannya pengurus Bumdes yang baru, Mbak Vivi mengucapkan selamat dan sukses. Di kesempatan yang sama secara simbolik ia memberikan modal usaha sebesar 47 juta, satu unit mesin molen dan kunci serta STNK mobil siaga.

Zaenal Muttaqin selaku Ketua Bumdes Jaya Mandiri merasa senang atas kepercayaan yang telah diberikan kepada pengurus Bumdes.” Pada kepengurusan kali ini, sengaja kami memperbanyak seksi-seksi atau unit-unit. Hal itu melihat kondisi dan kebutuhan di masyarakat. Sehingga muncul beberapa unit, seperti unit wirausaha, unit peternakan, unit peternakan dan unit simpan-pinjam”, papar Zaenal.

Toridin selaku pengawas hanya berpesan agar kepengurusan kali ini dapat benar-benar berjalan dengan baik.” Bahkan kalau bisa ditambah unit pelayanan pembuatan SIM keliling, atau pelayanan pajak SIM-STNK seperti desa tetangga”, tuturnya.

Pasca penyerahan inventaris dari Pemdes, Bumdes Jaya Mandiri pun langsung estafet gelar musyawarah rencana kerja konkret. Zaenal Muttaqin selaku manager Bumdes langsung mengakomodadi ide-ide usaha yang akan segera dilaksanakan.

Diantaranya muncul gagasan untuk membuka usaha fotocopyan dan toko ATK disamping balaidesa, pengadaan seperangkat alat kematian, sampai pada ide pengelolaan sampah dan mobil siaga.

Musyawarah cukup alot ketika membahas perihal teknis pengoperasian dan pemeliharaan mobil siaga. Apabila keterbatasan penggunaan mobil siaga yang hanya dapat digunakan untuk mengantar-jemputkan orang sakit saja. Sedang selama ini justru yang menjadi kendala besar adalah biaya perawatan mobil dan upah sopirnya.

Mbak Vivi pun menengahi dengan menawarkan opsi, dengan memaparkan biaya sukarela yang sudah sewajarnya dikeluarkan untuk si pemakai mobil siaga, minimal dengan membedakan jarak tempuh. “Meski mungkin agak berat, tapi kalau sdh disosialisasikan ke warga, pasti semua akan menyadarinya” tandasnya.

 

 

Facebook Comments