Lokakarya Mini Lintas Sektoral Puskesmas Wanasari

-Klampok- Setelah vacum beberapa bulan karena pandemi Corona, untuk pertama kalinya di tahun 2020, Puskesmas Wanasari menggelar lokakarya mini lintas sektoral pada Rabu (05/07/2020).

“Di tahun sebelumnya, biasanya acara tersebut bisa terlaksana sampai empat kali. Mengingat pandemi, baru kali ini, lokakarya linsek puskesmas Wanasari bisa terlaksana di tahun 2020, sekaligus fokus guna membahas program percepatan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI),” papar Rohmatul Fadilah selaku Penanggung Jawab Upaya Kesehatan Masyarakat (PJ UKM) Puskesmas Wanasari.

Sedikitnya 30 orang hadir pada acara tersebut. Mereka terdiri dari kepala Puskesmas Wanasari, Camat, Polsek, Danramil, Kepala KUA, Pendais, Korwil Pendidikan, PLKB, PKH, Kades, BPD dan para ketua team penggerak PKK di wilayah Puskesmas Wanasari.

Kepala Puskesmas Wanasari dr. Rofiqoh, MM dalam sambutannya menjelaskan bahwa sampai Juli 2020, Angka Kematian Ibu (AKI) di Brebes cukup tinggi, mencapai 32 orang. Dan 4 orang diantaranya dari Wanasari. Ia tidak menyalahkan siapa-siapa. Justru melalui lokakarya lintas sektoral itulah, ia berharap kerjasama dari semua pihak. “Mari kita introspeksi bersama, bagaimana caranya agar kasus ini tidak bertambah. Semua harus siaga dan bekerjasama, mulai dari kader, bidan, pamong, kades serta masyarakat,” katanya.

Hadir pada kesempatan itu Rumono Aswad dan Herwanto selaku pengurus Forum Masyarakat Madani (FMM) kabupaten Brebes. Rumono menegaskan bahwa pertemuan semacam ini adalah pertemuan yang mulia. Karena yang dibahas yakni tentang nyawa manusia, khususnya Ibu hamil, Ibu melahirkan serta bayinya. Ia meyakini, jika semua yang hadir betul-betul ikhlas tergerak untuk mengurusi tentang kemanusiaan, kasih sayang sesama, menyelamatkan jiwa dan nyawa seseorang, pasti hal ini juga tercatat sebagai ibadah dan merupakan ladang pahala.

Herwanto pun ikut menggaris bawahi pertemuan lokakarya lintas sektoral itu. Ia berharap agar untuk kedepannya lebih efisien dan efektif, hendaknya dalam tiap pertemuan ada Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang konkret dan jelas.”Kami harap di pertemuan selanjutnya, setiap desa bisa maju, bergantian memaparkan tantangan apa yang dihadapi serta kerja konkret apa yang sudah dilakukan,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama Herwanto mengurai akar tingginya Angka Kematian Ibu. Penyebabnya dikarenakan pre eklamsi, terlat penanganan serta pendarahan. Lebih dari 50%, tingkat pendidikan mereka rendah, rata-rata SD bahkan tidak tamat. Maka menurutnya, sudah seharusnya tiap desa memiliki database golongan darah, khususnya di masing-masing Rukun Warga (RW). “Bahkan kalau bisa, sudah disiapkan minimal empat pendonor di lingkungan RT-nya, bagi Ibu yang hendak melahirkan, serta kesiagaan mobil siaga desa,” tambahnya.

Acara ditutup dengan penegasan kembali kepada masing-masing desa agar dapat mengalokasikan minimal 4% dari dana desa untuk masalah kesehatan. Forum Kesehatan Desa (FKD) yang telah terbentuk di masing-masing desa juga diharapkan agar segera beraksi.